Sabtu, 06 Juli 2013

 <strong>Seo Gyeong-deok</strong> pusatkan pikiran untuk penelitian ilmu pengetahuan



* Hwadam disebut sebagai salah satu dari '3 hal yang terkenal di Songdo'

Nama kuno Gaeseong di provinsi Hwanghae Selatan, Korea Utara adalah Songdo dan 3 hal yang terkenal di Songdo dijuluki sebagai 'Songdo Samjeol.' Pertama adalah 'air terjun Bakyeon', kedua adalah wanita penghibur yang disebut sebagai 'Gisaeng' di Joseon, yaitu Hwang Jin-i, dan ketiga adalah sarjana pada pertengahan era Joseon, Seo Gyeong-deok. Dia mendirikan ruang studi di sekitar kawasan 'Hwadam' untuk memusatkan pikirannya pada penelitian ilmu pengetahuan, sehingga dia lebih terkenal sebagai nama penanya, yaitu 'Hwadam.' Sepanjang hidupnya, dia tetap meneliti ilmu pengetahuan dan memberikan ajaran kepada anak-anak didiknya tanpa melakukan kegiatan politik. Nah, siapa Seo Gyeong-deok yang mementingkan ilmu pengetahuan? 





* Anak yang memiliki keingintahuan terhadap dunia sejak masih kecil

Seo Gyeong-deok lahir pada tahun 1489. Dia hidup dalam keadaan miskin, sehingga harus memetik rumput-rumput di luar. Namun pada saat dia pulang ke rumah, keranjangnya selalu kosong. Orang tua yang merasa aneh terhadap hal tersebut bertanya kepadanya. Seo Gyeong-deok menjawab.

"Saya keluar untuk memetik rumput-rumput, namun kebetulan saya menyaksikan burung kecil mulai terbang. Anak burung itu makin lama makin lancar terbang dan hal tersebut sangat mengesankan bagi saya. Sambil melihat penampilan anak burung itu yang semakin terbang dengan baik setiap hari, saya ingin mengetahui prinsipnya, namun tidak ada cara untuk mengetahuinya."

Nah, kisah masa kecil Seo Gyeong-deok menunjukkan betapa besarnya keingintahuan terhadap makhluk hidup sejak masih kecil. dia mulai belajar pada saat berusia 14 tahun. Jika dia menemukan suatu benda asing, dia menempelkan nama benda itu pada dinding untuk memikirkannya secara berulang kali. Katanya, dia sering lupa makan dan tidur, karena tenggelam dalam pikiran. Dia tidak menerima isi buku dan tetap berupaya untuk menyadari dengan sendiri. 






* Evaluasi yang berbeda

Namun, penampilan Seo Gyeong-deok seperti itu mendapat kecaman dari sejumlah sarjana. Togye Yi-hwang mengecam Seo Gyeong-deok karena dia tidak mengikuti ajaran dari sarjana atau filsuf Zhu Xi. Namun, bagi Seo Gyeong-deok, kebenaran yang diperoleh lewat penyadaran diri terasa lebih penting daripada gengsi atau tradisi ilmu tradisional. Dia berpikir bahwa kemandirian dan kebebasan sangat diperlukan di dalam penelitian ilmu pengetahuan. Walaupun dia mendapat kecaman dari pemikir Neo-Konfusianisme yang mementingkan 'hakikat dan fitrah dari setiap benda dan hal', sejumlah pemikir Neo-Konfusianisme yang mementingkan 'materi untuk segala benda dan hal' bernilai tinggi terhadap ilmu pengatahuan Seo Geyong-deok. 





* Tidak berkarir sebagai politisi

Seo Gyeong-deok ikut ujian nasional karena diminta oleh ibu pada tahun 1531. Dia mengundur diri dari jabatan secara sukarela. Dia ingin menjalani hidupnya sebagai sarjana tanpa memegang jabatan apapun. Namun, ada alasan lain dimana dia tidak berkarir sebagai politisi. Pada waktu itu, keadaan politik terasa sangat kacau balau, karena ada insiden yang menyulitkan sarjana seperti pembersihan sarjana selama dua kali pada tahun 1498 dan pada tahun 1519.

Pada tahun 1546, Seo Gyeong-deok merasakan bahwa kematiannya semakin mendekat saat dia berusia 57 tahun, karena dia menderita penyakit selama hampir 2 tahun. Sebelum kematiannya, dia mengatakan kepada anak didiknya bahwa hatinya tenang dan damai karena telah lama menyadari prinsip mengenai kehidupan dan kematian. Demikianlah Seo Gyeong-deok yang memusatkan pikiran untuk menyadari prinsip benda dan makhluk di dunia ini dan menerima kematiannya secara alami. 








Source:kbs

0 komentar:

Poskan Komentar