Jumat, 12 Juli 2013

 <strong>Han Yong-un:</strong> Penyair Pejuang Kemerdekaan Tanah Air


Kekasih pergi
Kekasih yang aku cintai pergi
Dia meninggalkanku dengan berjalan kaki di jalan sempit ke arah hutan pohon Maple dengan menghancurkan cahaya dari gunung hijau


Itulah sebagian syair terkenal berjudul ‘The Silence of The Lover’ dari Han Yong-un. Dia terpilih sebagai penyair modern di dunia sastra Korea dan penyair pejuang yang mengalami masa penjajahan Jepang. Syair andalannya ‘The Silence of The Lover’ dimuat di dalam buku syair pertama yang mengumpulkan 88 karya syair yang diterbitkan pada tahun 1926 dengan judul yang sama. Walaupun ‘kekasih’ yang terdapat syair tersebut tidak dapat dijelaskan secara teliti, jika mencermati latar belakang era pada masa itu, ‘kekasih’ itu ditafsirkan sebagai ‘tanah air’ dan ‘bangsa.’

Pelaku revolusi Han Yong-un yang menjalani hidupnya di bawah masa penjajahan Jepang.... Penyair Han Yong-un yang memiliki keinginan demi kemerdekaan tanah airnya di dalam syairnya.... Pendeta Han Yong-un yang ingin mereformasi agama Budha... Nah, bagaimanakah sosok Manhae, Han Yong-un?





Memperjuangkan kemerdekaan Korea sebagai wakil dari dunia agama Buddha

Han Yong-un lahir pada bulan Agustus 1879 di wilayah Hongseong, Chungcheong Selatan. Saat masih remaja, dia menyaksikan Revolusi Donghak dan pergerakan dari pasukan militer pembela negara. Dia memutuskan untuk melakukan sesuatu demi negara, sehingga dia masuk ke kuil Oseam di Gunung Seorak pada tahun 1896. Di sana, dia mempelajari agama Buddha dan kembali pindah ke kuil Baekdam. Akhirnya, dia menjadi pendeta Buddha. Pada tahun 1910, agama Budha diselimuti oleh tindakan korupsi. Untuk mengatasi masalah tersebut, Han Yong-un menampilkan ‘Teori Reformasi Dunia Buddha’ yang memuat cara bagaimana menerapkannya.

Pada tahun 1918, Han Yong-un menerbitkan majalah khusus agama Budha. Melalui majalah tersebut, dia mempopulerkan agama Budha dan berupaya untuk meningkatkan semangat bangsa Korea di bawah masa penjajahan Jepang.

Saat para pejuang mempersiapkan Pergerakan 1 Maret, Han Yong-un juga ikut hadir sebagai wakil dari agama Budha. Dia ikut ambil bagian sebagai salah satu dari ‘33 tokoh wakil bangsa Korea’ serta mencetak surat deklarasi kemerdekaan dan menyampaikannya melalui agama Budha. Namun, setelah berakhirnya upacara pembacaan surat deklarasi kemerdekaan pada tanggal 1 Maret, seluruh wakil bangsa yang hadir ditangkap oleh Jepang, termasuk Han Yong-un. Setelah bebas dari penjara pada tanggal 21 Desember 1921, dia tetap melancarkan kegiatan kemerdekaan. Pada tahun berikutnya, dia mendukung ‘kampanye untuk kemandirian perekonomian’, dan berinisiatif untuk mendirikan perguruan tinggi swasta demi pendidikan bangsa.

Setelah itu, 20 pendeta agama yang masih muda membentuk badan anti Jepang, dan Han Yong-un melakukan kegiatan anti Jepang sebagai wakil badan tersebut. Dia aktif melakukan kegiatan kemerdekaan di kuil Dasol di wilayah Sacheon, Gyeongsang Selatan, namun pada akhir tahun 1938, kegiatannya diketahui oleh Jepang. 




Meninggal dunia tanpa bertemu dengan kekasih yang diinginkannya

Di kecamatan Seongbuk, ada rumah dinamakan ‘Shimujang’ di mana Han Yong-un menjalani hidupnya selama 10 tahun sebelum kematiannya. Saat rumah itu dibangun, banyak orang menyarankannya untuk menetapkan arah tempat kediamannya menghadap ke arah Selatan yang dianggap baik menurut fengshui. Namun, Han Yong-un bersikeras untuk membangun rumahnya ke arah timur laut. Alasannya adalah karena kantor gubernur Jepang pada waktu itu terletak di arah Selatan, sehingga dia tidak ingin memandang ke arah Selatan. Han Yong-un memimpin kegiatan kemerdekaan bangsa Korea walaupun berusia lebih 60 tahun. Pada tahun 1940, dia melancarkan kampanye anti perubahan marga orang Korea yang saat itu diwajibkan oleh Jepang. Dia juga menantang untuk merekrut siswa Joseon sebagai tentara Jepang pada tahun 1943. Namun, sangat disayangkan, dia wafat pada tanggal 29 Juni 1944 tanpa bertemu dengan ‘kekasih’ yang dia inginkan sebelum kemerdekaan terwujud. 








Source:kbsworld

0 komentar:

Poskan Komentar