Minggu, 23 Juni 2013

Lazada Dapat Suntikan Modal Rp993 Miliar untuk Tingkatkan Layanan di Asia Tenggara

Lazada Dapat Suntikan Modal Rp993 Miliar untuk Tingkatkan Layanan di Asia Tenggara

Lazada, perusahaan retail online Asia Tenggara yang didirikan Rocket Internet asal Jerman, sudah mengumpulkan $100 juta (sekitar Rp993 miliar) dari para investor dalam upayanya menyemarakkan e-commerce di kawasan tersebut.

Tak seperti di Eropa, Amerika Serikat dan bahkan di Cina, di mana berbelanja online sudah dianggap lumrah, 99 persen penduduk Asia Tenggara masih cenderung berbelanja offline, demikian perkiraan perusahaan itu. Lazada � yang beroperasi di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam � berharap dapat mengubah hal tersebut.

�Kami melihat kecenderungan positif di seluruh kawasan tersebut,� tutur CEO Lazada yang berkantor di Singapura, Maximilian Bittner.

Pada Kamis, Lazada mengumumkan bahwa mereka sudah mengumpulkan dana $100 juta dari investor-investor lama yaitu Holtzbrinck Ventures, Kinnevik Investment AB, Summit Partners and Tengelmann Group, serta investor baru Verlinvest, sebuah perusahaan pengelola investasi milik keluarga asal Belgia. Sejauh ini hal tersebut merupakan pendanaan terbesar yang diperoleh Lazada dalam satu putaran.

Dia menolak memberikan detail mengenai berapa putaran yang dibutuhkan.

Rocket Internet, yang berlokasi di Berlin, sudah meluncurkan beragam situs e-commerce dalam beberapa tahun terakhir. Mayoritas situs tersebut berada di pasar negara-negara berkembang.

Situs-situs tersebut antara lain Zando dan Jumia di Afrika, Zalando di Eropa serta Dafiti di Brasil. Lazada, yang diluncurkan pada awal 2012, menawarkan produk elektronik, barang-barang rumah tangga, mainan dan peralatan olahraga ke pasar negara-negara berkembang di Asia Tenggara.

Tantangan dari Amazon
Bittner mengatakan pendanaan tersebut sebagian akan digunakan untuk meningkatkan logistik dan jalur pasokan grup perusahaan tersebut. �Kami masih dalam tahap merintis. Hal terpenting bagi kami adalah meningkatkan tingkat layanan bagi pelanggan.�

Tentunya, Lazada juga dikritik. Bernard Leong, seorang pendiri situs berita regional SGE.io yang berlokasi di Singapura, yang mengamati aktivitas Rocket di Asia Tenggara, mengatakan Lazada terlalu banyak mengeluarkan uang untuk iklan, dan mengalami masalah pelayanan pelanggan di seluruh kawasan tersebut.

�Jika pendanaan tersebut membantu menyelesaikan masalah operasional perusahaan tersebut seperti layanan pelanggan, mereka berada di jalur yang benar untuk menjadi pemain terbesar di kawasan ini,� katanya.

Bittner menolak untuk memberikan angka pasti, namun mengatakan bahwa �nilai pendapatan kotor merchandise� (total nilai barang yang terjual selama periode tertentu) pada bulan lalu mencapai �ratusan juta� euro.

Kebanyakan pesaing terbesar Lazada merupakan perusahaan lokal namun pihaknya kemungkinan akan menghadapi tantangan signifikan dari Amazon.com Inc, yang meningkatkan aktivitasnya di Asia Tenggara. Sebelumnya, bulan ini Amazon mengumumkan pengiriman gratis untuk beberapa barang dari Amerika Serikat ke Singapura dan India. Amazon menawarkan layanan serupa di Eropa pada 2010.

Namun Bittner tetap optimistis. Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, grup Lazada sudah mengatasi tantangan logistik untuk mengirimkan sekitar 90 persen pesanan pada hari yang sama, dan mendapatkan 85 persen pesanan tersebut di wilayah-wilayah perkotaan yang dikirimkan pada hari berikutnya.

Meskipun e-commerce terhambat kurangnya opsi bagi para konsumen untuk membayar barang secara online, kurang dari 10 persen transaksi Lazada di Vietnam dibayar dengan kartu kredit, sementara di Malaysia 5 persen.

Konsumen di Asia Tenggara sudah beradaptasi terhadap teknologi baru, khususnya teknologi mobile, ujar Bittner. Dia mengatakan, aplikasi mobile yang diluncurkan sepuluh hari lalu sudah menyumbang sepuluh persen dari volume transaksi. �Hal tersebut menunjukkan betapa hebatnya potensi bisnis berbasis internet di Asia Tenggara,� tuturnya.


Sumber
Sekian: Lazada Dapat Suntikan Modal Rp993 Miliar untuk Tingkatkan Layanan di Asia Tenggara

0 komentar:

Poskan Komentar