Kamis, 20 Juni 2013

Diam-diam, di gudang Museum Bologna tersembunyi sebuah prasasti batu tua yang memuat cara memanggil dewi setan untuk menyiksa korban. Prasasti ini berumur 1.600 tahun.

Kabarnya, prasasti tersebut disembunyikan hampir satu abad. Benda antik ini disingkirkan pada Perang Dunia I. Tapi, telah ditemukan kembali pada 2009. Setelah para penerjemah bekerja, mulai terungkap rahasia gelapnya.

Terungkap Prasasti Yang Memanggil Dewi Setan - Kujelajahi.com

Peneliti dari Universitas Zaragoza, Celia Sanchez Natalias menerjemahkan prasasti aneh itu untuk kali pertama.

Sosok pertama tampil dengan ular keluar dari kepalanya, seperti Medusa. Mahkota diduga digunakan untuk memanggil iblis atau dewi untuk memberikan kutukan.

Batu tua ini memanggil sosok berambut ular untuk "mengikat" pria yang dimumikan dengan tangan terikat. Korbannya bernama Porcellus.

"Di bagian latar tampak sosok tanpa alas kaki sedang berdiri dengan tangan disilangkan atau diikat di depan perutnya. Pada dadanya terdapat  tanda sihir dan di daerah kelaminnya ada bintang sudut delapan," ujar Natalias seperti dilansir Dailynews.co.uk.

Ular meliuk muncul mengancam dari sisi kepala sosok yang bermahkota. Di bawahnya, terdapat gambar orang yang dimumikan dengan tangan terikat atau saling menyilang. Korban ini dikutuk. Penanda kutukan sangat mudah dikenali karena ukiran berikutnya menuliskan nama Porcellus.

Ukiran kutukan ini menjadi praktik umum dalam prasasti kuno. Prasasti timbal biasa digunakan di berbagai daerah. Sementara wilayah lain menggunakan batu.

Prasasti kutukan dari Bologna ini unik karena menggabungkan sosok iblis dan teks. Benda ini memanggil dewi tiga wujud Hecate. Sosok ini sering disebut sebagai "ibu" para penyihir.

"Dewi pelaku kutukan Bologna ini tanpa alas kaki dan memiliki tanda ajaib pada payudaranya. Dia juga memiliki tanda unik di daerah genital," ujar Natalias.

Tanda tadi diidentifikasi menjadi ciri Dewi Hecate.  Penyihir Hacate sering disebut dalam prasasti kutukan.

"Meskipun sosok ini mirip dengan ciri-ciri tokoh dewi itu, tapi ada karakteristik lain yang tidak ada. Tiga wujud dan bantalan obor yang sering diasosiasikan untuk menggambarkan dia hilang di sini. Ini melemahkan hipotesis," urai Natalias.

0 komentar:

Poskan Komentar